Rabu, 17 Desember 2008

MENCARI ALLAH

Bila kita ditanya oleh seseorang bagaimana kita dapat menemukan Allah? Maka hal yang sering dan mudah dikatakan adalah melalui doa atau dalam ibadat-ibadat. Hampir semua orang yang beragama meyakini bahwa doa dan ibadat adalah sarana untuk bertemu dengan Allah, meski selama ibadat dan doa jarang sekali orang sampai bertemu dengan Allah. Maka banyak orang berusaha tekun dan seserius mungkin ketika sedang berdoa atau beribadah. Banyak pula orang sibuk membuat tata ibadah yang khusuk sebab berharap melalui itu orang dapat menemukan Allah.

Apakah Allah hanya dapat ditemukan dalam doa dan ibadah? Dalam Injil Yohanes Yesus bersabda bahwa “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu.” Yesus adalah dalam diri kita padahal Yesus dan Bapa adalah satu. Dengan demikian dalam diri setiap manusia Allah ada. Bahkan Yesus bersabda Dia ada dalam diri orang yang miskin dan sederhana. Barang siapa mencintai orang miskin, maka dia telah mencintai Yesus. Dengan demikian mencari Allah bukan hanya dalam ibadah dan doa melainkan juga dalam diri sesama. Yohanes dalam suratnya menulis bagaimana mungkin orang dapat mencintai Allah yang tidak nampak bila dia tidak mampu mencintai saudaranya yang nampak.

Sabda Yesus sudah sering kita dengar dan baca. Banyak orang sudah hafal di luar kepala bahwa Allah ada dalam saudara yang miskin. Tapi dalam kehidupan sehari-hari realisasi dari pemahaman itu masih jauh. Hal ini mungkin disebabkan karena kita telah mempunyai konsep bahwa Allah itu besar dan agung. Jauh dan tidak tersentuh. Yesus itu adalah orang Yahudi dengan karakter wajah tertentu, maka dalam drama jalan salib yang sering diadakan dimana-mana, orang yang dipilih sebagai Yesus pasti ada kemiripan dengan Yesus yang ada dalam gambar-gambar yang banyak beredar. Belum pernah sekalipun saya melihat jalan salib dengan Yesus yang disalib adalah kaum miskin dan sederhana yang tampil apa adanya.

St. Vincentius dalam sebuah suratnya kepada seorang suster dia menulis, “Carilah Allah dalam segala kegiatan dan jangan ragu-ragu, pasti Allah berkenan dengan semua itu.” Kita diajak untuk mencari Allah dalam setiap yang kita kerjakan entah dalam pelayanan atau doa dan ibadah. Pencarian Allah menurut St. Vincentius bukan lagi hanya terpaku dalam kapel atau ruang doa, melainkan di jalan-jalan, di lorong rumah sakit, di gubuk-gubuk kumuh. Maka dalam sebuah suratnya St. Vincentius menulis, kapelmu adalah lorong-lorong rumah sakit dan jalan-jalan kumuh. Bagi saya ini sebuah perjuangan yang mahaberat. Bagaimana mungkin saya menemukan Allah di dalam diri saudaraku atau orang-orang miskin dan gelandangan atau wajah anak jalanan yang sering kali membuat jengkel? Bila kesadaran bahwa Allah ada dalam setiap orang muncul dalam benak saya maka saya mulai bertanya sungguhkah Allah demikian? Mengapa Allah menjengkelkan? Suatu saat Dorothy Day mengeluh kepada Allah mengapa Dia mabuk, terkena TBC, muntah, bau, ngompol dan sebagainya.

Perjuangan menemukan Allah ternyata bukan hal yang mudah apalagi bila kita sadar bahwa Allah tidak hanya ada di tabernakel melainkan ada dalam setiap orang yang kita jumpai.

0 komentar:

Posting Komentar