Minggu, 21 Desember 2008

BELAJAR DARI SALIB

Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya..Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” (1Ptr 2:21.24)

Yesus mengurbankan diri secara total demi menyelamatkan manusia. Allah dapat menyelamatkan manusia melalui berbagai cara. Para nabi datang membawa ajaran dan seruan pertobatan agar manusia kembali pada Allah dan mentaati perintahNya. Allah pun pernah memusnahkan manusia melalui air bah pada jaman Nuh, sehingga hanya menyisakan Nuh dan keluarganya yang dianggap sebagai orang baik. Allah juga pernah menurunkan hujan api di Sodom dan Gomora pada jaman Abraham, sebab Abraham tidak menemukan orang baik. Namun akhirnya Allah mengurbankan diri. Inilah puncak keselamatan.

Mengapa harus mengurbankan diri? Menurut penulis surat Petrus pengurbanan Yesus juga sebagai bentuk keteladanan bahwa bila orang ingin menyelamatkan sesamanya maka dia harus mengurbankan diri. Tidak ada keselamatan tanpa kurban. Demikian pula dengan kita saat ini. Bila kita ingin menyelamatkan sesama maka kita dituntut untuk berkurban baginya. Misalnya saja kita mengunjungi orang sakit, maka kita harus meluangkan waktu, tenaga, dana dan sebagainya. Inilah kurban bagi kita bagi sesama. Semakin besar keselamatan yang ingin kita berikan pada sesama semakin besar kurban yang harus kita lakukan.

Dalam kata sambutannya saat menerima penghargaan Discovery Award pada 13 Juni 1981 Ibu Teresa mengatakan, “Bila kita memandang salib, kita menyadari betapa besar kasih Yesus terhadap kita. Bila kita memandang tabernakel, kita menyadari betapa besar cintaNya kepada kita saat ini. Itulah sebabnya mengapa penting sekali bagi kita untuk belajar berdoa, jika kita memang ingin mencintai dan dicintai.” Ibu Teresa menganjurkan kepada para suster dan kita untuk beradorasi dan meditasi di depan tabernakel. Dalam adorasi kita diajak untuk merenungkan kasih Yesus kepada kita sehingga mengurbankan diri dan menjadi hosti yang kecil dan sederhana demi keselamatan manusia. Dalam adorasi kita dapat merasakan cinta Yesus yang mendorong kita untuk semakin mencintai sesama.

Dunia saat ini penuh dengan penderitaan. Setiap hari kita melihat ada banyak penderitaan di sekitar kita. Hal ini disebabkan semakin banyak orang yang enggan untuk berkurban bagi sesama sebaliknya semakin banyak orang yang tega menindas dan memperlakukan sesamanya dengan sewenang-wenang. Saat ini sulit dicari orang Samaria yang baik hati. Orang yang berani meninggalkan kepentingannya demi keselamatan orang lain. Orang jaman ini cenderung egois dan individualis, sehingga dia hanya berpikir demi kepentingannya dan tidak peduli pada sesama. Orang rela melakukan apa saja demi kepentingannya dan kenikmatannya. Orang tetap berpesta meski ada ribuan bahkan jutaan orang yang tidak dapat makan. Mereka tidak peduli akan keadaan sesamanya, sebab bagi mereka itu bukan urusannya.

Agar dapat melakukan kurban kita dituntut untuk memiliki hati yang penuh belas kasih kepada sesama dan keberanian untuk meninggalkan diri atau pengosongan diri. Hati yang dipenuhi oleh belas kasih mendorong kita berani untuk mengabaikan aneka kepentingan diri sendiri dan hanya memusatkan perhatian pada kepentingan sesama. Hal ini tidak mudah, sebab kita ingin hidup kita bahagia dan nyaman. Kurban adalah pemberian yang pasti akan mengurangi apa yang kita miliki. Mengunjungi orang sakit dapat mengurangi waktu kita untuk urusan pribadi. Memang banyak orang melakukan pelayanan namun dalam melakukannya masih sering mendasarkan tindakan diri pada untung rugi dan kepentingan sendiri. Mereka melakukan pelayanan hanya demi sebuah prestise dan kebanggaan diri sendiri. Akibatnya sering terjadi pertengkaran dengan teman sepelayanan, kecewa sebab yang dilayani tidak hidup sesuai dengan yang diharapkan dan sebagainya. Akibatanya banyak karya pelayanan yang berhenti atau bubar.

Bila kita ingin berkurban maka kita harus berani melupakan kepentingan diri sendiri. Kekuatan kita untuk memiliki semangat kurban seperti ini adalah bila kita mau setiap saat merenungkan kurban salib. Kita menyadari bahwa Yesus sudah mengurbankan diri terlebih dahulu secara total. Bahwa Yesus sudah memberikan keteladanan bagaimana seharusnya menyelamatkan manusia. Semakin sering kita meditasi atau adorasi di depan tabernakel dan salib semakin kuat belas kasih dan semangat berkurban. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk sesering mungkin hening di depan tabernakel untuk merasakan kasih Tuhan kepada kita, sehingga dapat memberikan kekuatan kepada kita untuk berani berkurban.

0 komentar:

Posting Komentar