Kamis, 18 Desember 2008

SOLIDARITAS

Beberapa tukang becak berkumpul di pinggir jalan. Mereka ribut membicarakan salah satu temannya yang meninggal dunia. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan saweran. Mereka mengambil sebuah kantong plastik hitam dan mulai mengedarkannya dari satu becak ke becak yang lain.Dari hasil saweran terkumpul hampir 400 ribu rupiah. Lalu mereka memutuskan kapan akan berangkat ke tempat duka dan siapa saja yang akan ikut menyerahkan uang itu.

Para tukang becak itu memang sudah lama menjadi anggota paguyuban becak. Dalam proses membangun paguyuban itulah mereka membuat beberapa aturan termasuk untuk yang sakit dan kalau ada yang meninggal dunia. Setiap anggota yang sakit akan mendapat sumbangan dana dari paguyuban demikian pula bila ada yang meninggal. Namun setiap orang juga hendaknya memberikan sedikit dana dengan cara saweran. Berapapun yang terkumpul akan diberikan kepada orang yang menderita asal dilakukan dengan iklas. Mereka pun sepakat dengan aturan itu.

Uang yang ada di kantong hitam beragam besarnya. Ada 1000 an, 5000 an, 10.000 an bahkan 20.000 an. Aku heran melihat uang sebesar itu untuk saweran. Bagi banyak orang uang 20 ribu bukanlah hal yang besar. Sekali makan di restoran siap saji hanya dapat sebuah burger. Namun bagi seorang tukang becak itu adalah jatah makan sehari. Banyaknya angkutan kota dan semakin banyak orang memiliki motor maka becak kurang lagi diminati, sehingga banyak tukang becak kesulitan untuk mencari pelanggan. Sudah sering aku dengar bahwa dari pagi sampai siang kalau dapat 10 ribu saja itu sudah beruntung. Tapi kini dia rela memberikan uang 20 ribu untuk temannya yang meninggal dunia.

Suatu hari Yesus memperhatikan orang-orang yang memasukan uang dalam kotak persembahan. Dia memuji seorang janda miskin yang memasukan uang kecil namun itu merupakan seluruh miliknya. Bagi Yesus janda itu adalah orang yang berani. Dia berani mengiklaskan seluruh miliknya untuk Tuhan. Tukang becak itu tidak ubahnya janda miskin dalam kisah itu. Dia berani memberikan seluruh penghasilannya untuk sesama yang sedang berkabung. Terkadang keberanian ini hanya dimiliki oleh orang miskin dan sederhana. Bukan aku menghina atau merendahkan orang yang memiliki banyak harta, namun selama ini cerita orang yang menyumbangkan sebagian besar hartanya bagi sesamanya yang menderita hanyalah sebuah cerita yang terjadi pada jaman dahulu kala. Sangat sulit ditemukan orang yang berani seperti tukang becak itu.

Memang solidaritas atau kepedulian tidak hanya diukur oleh besar atau kecilnya sebuah sumbangan, namun besar kecilnya hati yang terlibat dalam penderitaan sesamanya. Namun sebagai tolok ukur yang mudah adalah yang dapat dilihat yaitu sumbangan. Para tukang becak dan masih banyak orang miskin lain senantiasa mempunyai hati bagi sesamanya. Mungkin karena mereka juga merasakan penderitaan sehingga mudah tersentuh oleh orang yang menderita. Apakah untuk solidaritas orang harus menderita terlebih dahulu? Aku tidak tahu.

0 komentar:

Posting Komentar