Minggu, 21 Desember 2008

MARIA BUNDA PENOLONG

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm 11:36)

Umat Kristen di Roma semula dibangun oleh orang Yahudi, tapi karena mereka diusir dari Roma, maka tinggallah umat Kristen bukan Yahudi yang masih bertahan di Roma. Mereka adalah kelompok minoritas dan banyak mendapatkan tekanan. Maka St. Paulus berusaha meneguhkan mereka agar tetap setia dan meletakkan Yesus sebagai pusat hidupnya. St. Paulus mengingatkan bahwa apa saja yang mereka terima semua berasal dari kemurahan hati Yesus, maka semua harus dikembalikan pada Yesus.

Sebetulnya apa yang ditulis oleh St. Paulus juga ditujukan kepada kita. Hidup kita adalah anugerah dari Allah. Apa yang kita miliki saat ini semua berasal dari Allah. Memang kita pun berusaha untuk mencapai apa yang ada saat ini. Kita pun berjuang untuk dapat mempertahankan kehidupan. Namun semua itu akan sia-sia bila Allah tidak berkenan. Kesadaran akan segala sesuatu yang kita alami berasal dari Allah, maka kita pun hendaknya mengembalikan kepada Allah bila Allah memintanya kembali. Kita dianugerahi Allah tenaga yang cukup, maka kita harus memberikan tenaga kita bila Allah membutuhkannya. Kita pun telah menerima Yesus dalam hidup kita. Dia tidak ada diluar diri, melainkan Dia ada dalam diri kita. Bila kita menerima hosti maka kita bersatu secara penuh dengan Yesus secara nyata. Dia hidup dalam diri kita dan menggerakkan kita.

Ketika akan menerima hadiah Magsaysay, sebuah hadiah tertinggi yang diberikan oleh pemerintah Philipina kepada orang yang dianggap hebat, Ibu Teresa selama di Manila tinggal di rumah suster Puteri Kasih. Dia menulis surat kepada Rm. Neuner “For me please pray, Would that I could tell but that too is empty and it seems to me I have nothing to tell you, I wonder what He gets from all this when there is nothing in me. I had to go to Manila for the Magsaysay award. It was one big sacrifice. Why does He give all these but Himself. I want Him, not His gifts or creatures. I must not write like this for it takes from the joy of letting God be free with me. I am not only willing but also happy to be at His disposal. Let Him taka all, even Himself if this increases His pleasure, in return I ask to make my Sisters holy.” Dari tulisan ini kita dapat melihat betapa rendah hatinya Ibu Teresa. Baginya sudah merasa cukup akan hadiah yang diberikan oleh Yesus pada manusia yaitu diriNya. Ibu Teresa hanya mengingkan Yesus bukan yang lain.

Bila kita telah hidup dalam Yesus dan menyadari akan karya Yesus dalam hidup kita, maka kita tidak lagi digelisahkan oleh aneka penghargaan yang diberikan oleh manusia. Dalam melakukan segala sesuatu kita tidak peduli lagi apakah yang kita lakukan dihargai oleh manusia atau tidak, sebab kita melakukan demi Yesus. Hanya Yesus yang menjadi pusat segala aktifitas kita. Tapi hal ini tidak mudah. Kita masih sering melakukan sesuatu agar dihargai oleh sesama. Salah satu ciri jaman ini adalah persaingan prestasi. Maka pelayanan pun dapat dijadikan sebagai sarana untuk bersaing dengan sesamanya dan mencari prestasi. Akibatnya tidak jarang dalam pelayanan kita dapat menemukan orang yang bertengkar, tersinggung, marah pada sesama dan akhirnya meninggalkan pelayanan itu. Banyak orang menjadi kecewa sebab apa yang dilakukan tidak dihargai oleh sesamanya.

Pelayanan bukanlah sarana mencari kepuasan diri atau penghargaan diri. Pelayanan adalah pemberian diri kepada Yesus yang telah menyelamatkan. Pusat perhatian kita adalah Yesus yang membutuhkan kita. Pelayanan adalah saat kita membalas cinta kasih Yesus yang telah mengurbankan diri. Untuk itu sebelum melayani hendaknya kita merefleksi diri. Melihat karya Allah dalam diri. Semakin kita menyadari akan kasih Allah yang telah kita terima maka semakin besar pula semangat kita untuk melayani. Pelayanan adalah membagi kasih pada sesama yang membutuhkan. Agar kita mampu berbagi kasih, maka kita harus mengalami kasih terlebih dahulu. Kasih yang terbesar adalah kasih Allah yang tidak berkesudahan.

Kasihlah yang menggerakkan kita untuk melayani, sebab tanpa kasih pelayanan kita hanya menjadi aksi sosial, dimana kita menolong orang miskin hanya karena tuntutan moral bukan perwujudan kasih pada sesama. Oleh karena pelayanan adalah perwujudan kasih kepada Allah, maka kita tidak akan gentar bila dikritik oleh sesama bahkan dijauhi oleh sesama karena melakukan pelayanan. Pusat perhatian kita adalah Allah bukan manusia. Memang kita membutuhkan pujian. Kita senang bila apa yang kita lakukan dikagumi orang. tapi pujian bukan menjadi pusat perhatian, sebab kita sudah dipuaskan oleh pujian yang nantinya akan kita terima bila Yesus datang untuk kedua kali.

0 komentar:

Posting Komentar