Minggu, 21 Desember 2008

HIDUP DAMAI

Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” (Rm 14:19).
Dalam Gereja perdana beberapa kali terjadi gejolak yang menyebabkan perpecahan. Padahal Gereja adalah gambaran Kerajaan Allah di dunia yang mewartakan damai dan hidup penuh kasih. Maka beberapa kali Yesus menegur dan mengingatkan para murid agar mau hidup berdamai. Pada jaman Gereja awali, Paulus juga mengingatkan agar umat mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera.

Dunia mendambakan damai namun hampir setiap hari kita disuguhi berita kekerasan yang menyebabkan perpecahan dalam masyarakat dan menghilangkan damai. Penulis sejarah Romawi pada jaman dahulu kala yang bernama Publius Flavius menulis semboyan bagi para prajurit Romawi, si vis pacem para bellum, untuk menciptakan damai kita harus berperang. Semboyan ini memang sudah tidak didengungkan lagi pada jaman ini, tapi ternyata masih diikuti oleh banyak orang. Masih banyak orang yang tidak suka hidup berdamai. Dalam tubuh Gereja pun masih sering terjadi pertengkaran, bahkan dalam komunitas-komunitas yang ada dalam tubuh Gereja tidak jarang berantakan akibat pertengkaran.

Ibu Teresa menulis, “Kita harus membawa kasih dan suka cita ke dunia jaman sekarang. Kita tidak butuh meriam atau bom untuk membawa damai. Kita hanya butuh kasih dan kemurahan hati. Dan kita juga butuh kesatuan yang mendalam dengan Allah serta doa. Doa yang disertai pengorbanan diri dan pengorbanan yang disertai dengan adorasi.” Ibu Teresa menghedaki semua pengikutnya mampu menciptakan damai dengan memberikan kasih dan suka cita bukan seperti yang diserukan oleh Publius Flavius.

Dengan demikian agar kita mampu hidup berdamai maka syaratnya adalah bahwa kita mempunyai kasih yang bersumber dari kedekatan hubungan kita dengan Allah melalui doa dan meditasi. Semakin kita banyak berdoa dan bermeditasi, maka hati kita akan dipenuhi oleh kasih Allah yang akan memancar di sekeliling kita. Hati kita akan penuh dengan damai sehingga dapat menawarkan damai kepada orang yang ada disekitar kita.

Di negara kita sangat mudah untuk menemukan rumah ibadah. Banyaknya rumah ibadah menunjukkan ada banyak orang yang berdoa dan percaya pada Allah. Namun mengapa di negara kita masih sering terjadi kekerasan? Hal ini disebabkan masih banyak orang yang melepaskan antara kehidupan doa dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang mempunyai jam-jam doa yang ketat dan berdoa dengan tekun, namun mereka kurang mampu membangun hidup damai dengan sesamanya. Hal ini disebabkan adanya keterpisahan antara kehidupan doa dengan kehidupan sehari-hari. Mereka tidak mampu menjadikan kehidupan doanya sebagai dasar dari kehidupannya sehari-hari.

Dalam berdoa kita merenungkan karya Allah dalam hidup kita. Kita mensyukuri atas segala karunia yang dianugerahkan Allah sepanjang hidup. Namun hidup kita tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Ada banyak kepahitan yang kita alami dan menimbulkan luka yang mendalam. Kebencian, dendam, penyesalan dan aneka kepahitan hidup bercampur aduk dalam lubuk hati yang terdalam. Kita ingin menyingkirkan semua itu, namun tidak mampu sebab semua itu menyatu dalam hidup kita. Kita marah dan jengkel akan semua luka dan kepahitan hidup. Kemarahan dan kejengkelan dalam diri kita ungkapkan pada sesama. Akibatnya kita tidak mampu menciptakan damai. Oleh karena itu agar mampu menciptakan damai, kita harus terlebih dahulu berdamai dengan diri sendiri. Kita serahkan seluruh kepahitan hidup pada Allah dalam doa-doa kita. Kita mensyukuri akan semua pengalaman hidup sebagai bagian dari rencana Allah untuk membentuk kita seperti saat ini. Dalam hening kita melihat kasih Allah yang senantiasa menyertai kita sampai saat ini. Kasih Allah yang terbesar adalah mengangkat kita sebagai anaknya melalui kurban salib. Menghapus segala dosa kita dan menyertai kita sampai akhir jaman. Kesadaran akan kasih Allah yang tidak berkesudahan membuat kita mampu menutup segala luka dan kepahitan hidup, sehingga kita akan mampu berdamai dengan diri. Bila kita mampu berdamai dengan diri, maka kita akan mampu berdamai dengan sesama.

0 komentar:

Posting Komentar