Jumat, 26 Desember 2008

DIMANAKAH KAU TUHAN?

Seorang teman bercerita tentang hidupnya yang sarat ketidakadilan. Dia mengeluh mengapa sejak kecil hidupnya sarat penderitaan dan ketidakadilan? Dimana Tuhan saat dia diperlakukan sewenang-wenang? Bila Tuhan Mahaadil mengapa semua itu bisa terjadi? Pertanyaan tentang Tuhan pada menderita bukan kali ini aja aku dengar. Entah sudah berapa kali aku mendengar orang mempertanyakan dimana Tuhan saat dia mengalami penderitaan yang bukan karena kesalahannya? Dimana Tuhan ketika ada orang berbuat jahat dan menindas sesamanya?

Beberapa penulis pasca perang dunia II juga membuat refleksi atas ketidakberadaan Tuhan ketika Nazi melakukan genoside terhadap orang Yahudi. Apa salah mereka? Dalam Kitab Suci Tuhan bersabda bahwa umat Israel adalah bangsa pilihanNya yang akan dilindungiNya. Tapi mengapa Dia membiarkan Nazi membunuh ribuan orang Yahudi dalam kamp tawanan? Teriakan ditinggalkan Tuhan juga dialami Yesus ketika di salib. Dia berteriak dimana Allah? Memang penderitaan yang dialami oleh orang yang sadar bahwa dirinya tidak bersalah jauh lebih menyakitkan daripada penderitaan yang dialami oleh orang yang sadar bahwa dia bersalah. Seorang maling dipukuli oleh orang kampung dia merasa hal itu sudah konsekwensi yang harus diterima. Tapi kalau ada orang jalan lalu dikeroyok tanpa tahu mengapa dia dikeroyok, maka akan muncul pertanyaan dimana Tuhan saat itu? Maka tidak jarang orang mengkaitkan penderitaan dengan dosa. Banyak orang berusaha melepaskan penderitaan dengan berdoa mohon ampun atas dosa-dosanya bahkan dosa nenek moyangnya.

Dalam penderitaan orang mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan. Bila orang itu sungguh teguh imannya maka dia akan semakin bertaut pada Tuhan, tapi bila tidak teguh maka dia akan meninggalkan Tuhan. Percuma percaya pada Tuhan bila Dia tidak ada saat dibutuhkan. Kemanakah Tuhan pada saat orang menderita? Tuhan selalu ada dan melihat semua yang terjadi di dunia. Dalam kitab Ayub, Tuhan mengijinkan setan untuk mencobai Ayub. Penderitaan membuat Ayub mulai mempertanyakan Tuhan dan keberadaanNya. Apakah ketika Ayub hidup makmur dia tidak pernah mempertanyakan Tuhan? Tampaknya tidak. Dia memang orang saleh dan dia yakin bahwa Allah adalah penyelamatnya. Tapi dalam penderitaan keyakinannya mulai goyah. Keyakinan bahwa Allah yang baik dan adil berbenturan dengan kenyataan hidup yang tidak adil.

Orang mempertanyakan keberadaan Tuhan sebab melihat Tuhan dari satu sudut yaitu sudut positip. Sejak kecil dan mengenal agama sudah ditanamkan dalam diri seseorang Tuhan yang positip. Tuhan Mahabaik, Mahamurah dan sebagainya. Apakah Tuhan hanya dalam sisi positip? Bila Tuhan adalah sempurna maka dalam Dia tidak hanya ada positip tapi juga negatif yaitu Mahapelit, Mahajahat dan sebagainya. Tapi siapa orang yang berani menyatakan bahwa Allah itu Mahajahat dan Mahatidakadil? Tentu ini akan dilawan oleh orang yang mengaku beriman, sebab pemahaman itu tidak ada dalam Kitab Suci. Lebih jauh lagi penderitaan membuat orang konflik dengan dirinya. Keyakinan Tuhan yang positip berbenturan dengan realita penderitaan. Akibatnya dia mempertanyakan dimana Tuhan ketika penderitaan itu terjadi?

Tuhan adalah pribadi yang bebas. Dia bebas memberi dan bebas mengambil. Namun orang sulit menerima bila Tuhan mengambil. Bagaimana dia akan memuji Tuhan bila Tuhan mengambil apa yang dimilikinya? Dalam hal ini kita sering memaksa Tuhan untuk menjadi atau melakukan seperti yang kita inginkan. Iman adalah kepasrahan pada Tuhan. Menyerahkan seluruh hidup pada kehendakNya. Ayub ketika menerima penderitaan dia berdoa pendek, Tuhan memberi dan Tuhan mengambil, terpujilah Tuhan. Yesus pun memberi kebebasan pada Allah dalam doa di taman Getsmani. "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Kepasrahan inilah yang membuat manusia tenang dan sungguh menampakkan imannya pada Tuhan.

1 komentar: