Minggu, 21 Desember 2008

PERSEMBAHAN

Ketika orang Majus melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” (Luk 2:10-11)

Orang Majus adalah para ahli astronomi yang percaya bahwa seorang raja besar akan lahir setelah mereka melihat bintang besar di langit. Mereka berjalan jauh dari tempat asalnya untuk mencari Sang Raja yang baru lahir. Akhirnya mereka sampai di Betlehem dan menemukan Yesus. Mereka lalu mempersembahkan apa yang mereka bawa kepada Yesus. Persembahan para majus adalah sebagian kecil persembahan yang mereka bawa. Persembahan mereka yang terbesar adalah keberanian mereka untuk meninggalkan segalanya agar dapat bertemu dengan Yesus.

Persembahan adalah sesuatu yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain yang dihormatinya tanpa keinginan untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Mereka memberi dengan suka cita demi kebahagiaan orang yang dihormatinya. St. Paulus mengingatkan bahwa persembahan yang terbesar adalah tubuh kita, seperti Yesus yang sudah mempersembahkan diriNya sebagai kurban untuk keselamatan manusia. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Rm 12:1)

Ibu Teresa menulis “Penyangkalan total artinya memberikan diri sepenuhnya kepada Allah karena Allah telah memberikan diriNya kepada kita. Jika Allah yang tidak berhutang apapun kepada kita, bersedia memberikan diriNya kepada kita, pantaskah kita menanggapinya hanya dengan memberiNya sebagian dari diri kita?... Kami memberikan diri kami kepadaNya dan Allah menjadi milik kami, dan sekarang kami tidak mempunyai apa-apa selain Allah. Hadiah yang diberikan Allah kepada kami sebagai imbalan atas penyangkalan diri sendiri adalah diriNya sendiri.”

Bagi Ibu Teresa pelayanan adalah suatu pemberian diri kepada Allah yang ada dalam diri kaum miskin. Pemberian diri adalah menyerahkan seluruh hidup, pikiran, tenaga dan hati kita kepada kaum miskin demi kebahagiaan mereka. Kita menyerahkan tanpa menuntut balas dan dengan suka cita. Untuk itu dibutuhkan semangat penyangkalan diri seperti Yesus yang meskipun Allah namun rela melayani manusia yang rendah dan penuh dosa.

Namun hal ini tidak mudah. Kita sering ingin memiliki diri kita bagi diri sendiri. Kita ingin mempertahankan siapa diri kita adanya. Bila kita seorang pejabat yang biasanya dilayani sangat sulit untuk memberikan diri sebagai pelayan, sebab kita punya kecenderungan ingin menunjukkan siapa diri kita. Maka kita perlu keluar dari diri kita dengan melepaskan segala status, kekayaan, jabatan dan sebagainya dan menjadi hamba dari kaum miskin. Seperti orang majus yang meninggalkan negeri dan seluruh kehidupannya untuk bertemu Yesus.

Penyangkalan diri bukan hanya melepaskan apa yang melekat dalam diri kita melainkan juga membiarkan Allah yang berkarya dalam diri, sehingga bila kita melakukan sesuatu bukan lagi kita yang berbuat melainkan kehendak Allah sendiri. Dengan demikian kita tidak akan kagum dan bangga dengan apa yang telah kita lakukan, sebab Allahlah yang telah melakukan dalam diri kita. Kita pun tidak akan kecewa bila apa yang kita lakukan tidak membuahkan hasil, sebab kita hanya sebagai saluran karya Allah dalam hidup. Kita mampu menyerahkan seluruh karya kita pada Allah. Maka tidak heran bila St. Paulus mengatakan bahwa itulah ibadah sejati. Dalam beribadah bukan hanya kita menyembah Allah melainkan kita juga dikuasai oleh Allah.

Semangat penyangkalan diri hanya dapat dimiliki oleh orang yang rendah hati yaitu sikap yang menyadari bahwa kita tidak memiliki apa-apa selain Allah yang ada dalam hati kita. Kesadaran bahwa kita tidak mampu melakukan apa-apa selain tindakan dimana Allah berkenan. Bila kita mampu mempunyai sikap rendah hati dan penyangkalan diri, maka kita tidak takut untuk melakukan segala sesuatu dan tidak mudah kecewa atau bangga akan segala sesuatu.

0 komentar:

Posting Komentar