Kamis, 18 Desember 2008

ULO


Entah mengapa anak muda itu dipanggil Ulo yang artinya adalah ular. Dia berasal dari Jakarta dan sejak kecil sudah menggelandang di Surabaya. Sekolahnya SD saja tidak tamat. Ada banyak alasan mengapa dia meninggalkan Jakarta dan lari ke Surabaya. Selama beberapa tahun dia tinggal di sebuah rumah singgah tanpa melanjutkan sekolah lagi, sebab faktor usia yang sudah lewat. Pertemanannya dengan para pendamping membuatnya mempunyai pandangan-pandangan baru tentang sosial. Dia pun tidak segan belajar mengenai aliran-aliran kiri meski sering kali bila ada orang berdiskusi dia hanya duduk sebagai pendengar. Kini Ulo sudah bukan anak lagi. Dia sudah menjadi seorang pemuda dan masuk dalam sebuah organisasi.

Ulo bukanlah seorang yang pandai berbicara. Dia lebih banyak diam dan mendengarkan. Namun dia sangat bersemangat dalam bekerja menolong orang miskin. Kini kegiatan Ulo adalah mendampingi orang-orang miskin yang sakit agar mendapatkan biaya pengobatan murah atau gratis dari pemerintah. Hampir setiap hari dia mengantar orang sakit ke rumah sakit pemerintah. Suatu hari dia harus berdebat dengan para pegawai sampai akhirnya dia dipertemukan dengan pemimpin rumah sakit sehingga dia mendapat perhatian khusus. Mendengar ceritanya aku jadi heran bagaimana dia mempunyai keberanian dan dapat meyakinkan orang-orang yang jauh lebih berpendidikan dan pandai daripadanya.

Aku sering kali datang ke rumah sewaan yang ditempatinya. Rumah itu dijadikan rumah transit bagi orang sakit. Semula rumah ini akan dijadikan sekretariat, namun karena ada kebutuhan untuk tempat singgah bagi orang sakit, maka rumah itu sekarang lebih berfungsi sebagai rumah transit daripada sekretariat. Setiap hari ada saja orang sakit parah yang tinggal di rumah itu. Mereka datang dari beberapa daerah yang cukup jauh dari Surabaya. Mereka adalah orang miskin yang sakit parah seperti tumor, kangker dan sebagainya yang membutuhkan pengobatan mahal dan berulang-ulang di rumah sakit. Namun setiap berobat mereka membutuhkan beberapa hari untuk tinggal di Surabaya, maka sangat berat bila mereka harus menginap. Maka mereka tinggal di rumah transit untuk menginap. Selain itu mereka juga sering kali tidak mempunyai uang, maka Ulolah yang mengantar agar mereka mendapatkan perawatan yang layak.

Ulo adalah pemuda sederhana dan tidak berpendidikan, namun dia mempunyai hati bagi sesamanya yang menderita. Dia tidak segan harus berjalan kian kemari untuk mengurus mereka yang sakit, sebab kami belum mempunyai kendaraan yang dapat dipakai sebagai sarana transportasi. Namun semua itu dijalaninya dengan gembira tanpa mengeluh. Dalam dunia yang makin egois seperti saat ini, orang-orang semacam Ulo sangat dibutuhkan. Dia bukan saja mengurbankan tenaga, namun juga pemikiran dan dananya untuk orang lain yang menderita. Dia melakukan semua itu bukan karena ingin jadi lebih melainkan hanya karena kasihan melihat sesamanya yang menderita. Padahal dia sendiri adalah orang menderita yang tidak jelas masa depannya.

0 komentar:

Posting Komentar