Jumat, 26 Desember 2008

TERMINATOR


Pada saat selesai menonton film The Terminator I sekitar tahun 1984, aku bersama teman-teman ribut berdiskusi mengenai film itu. Film Terminator mengkisahkan pada tahun 2019 mesin berperang melawan manusia. Pahlawan manusia adalah John Connor. Para mesin mengirim seorang robot yang diperankan oleh Arnold Schwarzenegger untuk membunuh Sarah Connor yang diperankan oleh Linda Hamilton agar tidak melahirkan John Connor. Namun manusia juga mengirim Kyle Reese yang diperankan oleh Michael Biehn. Akhirnya Sarah Connor selamat dari usaha pembunuhan. Lepas dari persoalan akting dan serunya film kami ribut berdiskusi mengenai mungkinkah suatu saat manusia dikuasai oleh mesin? Ciptaan menguasai pencipta? Diskusi kami tidak berujung, sebab kami bukan ahli tehnologi sehingga tidak mampu meramalkan perkembangan tehnologi di masa depan.

Saat ini sudah tahun 2008 dengan demikian tahun 2019 kurang sebelas tahun lagi. Apakah dalam sebelas tahun ke depan manusia sudah mampu membuat robot yang berpikir sehingga dapat menentukan diri sendiri. Robot yang mempunyai perasaan sehingga dapat berlaku keji dan ingin menguasai? Jika melihat perkembangan komputer dan tehnologi lain yang sangat pesat penciptaan robot yang dapat berpikir tinggal menunggu waktu. Beberapa ahli sudah mampu membuat robot yang semakin lama semakin canggih. Tapi semua robot masih bergantung pada manusia. Bila dia rusak maka tidak mampu memperbaiki dirinya sendiri.

Apakah aku akan mengalami jaman mesin yang menguasai manusia? Bila berpatok pada flm Terminator maka kemungkinan aku masih bisa mengalami jaman itu. Tapi bila ramalan dalam film itu salah dan masih perlu berpuluh tahun lagi untuk membuat robot seperti Terminator, maka aku tidak akan mengalami masa mengerikan itu. Tapi aku pikir ternyata jaman Terminator sudah terjadi pada saat ini, meski banyak orang tidak menyadari itu. Saat ini secara perlahan mesin sudah mulai menguasai manusia namun manusia tidak sadar bahwa dia sudah dikuasai oleh mesin bahkan diperbudak olehnya.

Bagiku ada banyak mesin yang menguasai manusia dan yang paling sangat mencolok adalah HP. Hampir semua penduduk di Indonesia memiliki HP. Mulai dari anak SD bahkan TK sampai nenek dan kakek banyak yang mengenggam HP setiap harinya. Kemana saja mereka pergi kotak kecil itu tidak akan tertinggal. Mungkin lebih tenang ketika sadar bahwa kunci rumah tertinggal daripada HP yang tertinggal. Orang sangat bergantung pada HP dan seolah HP adalah segalanya. Pernah suatu hari aku bersama beberapa teman makan di sebuah rumah makan yang kecil dan penuh sesak. Kami dapat meja dekat pintu. Setelah makan aku iseng melihat orang yang keluar masuk rumah makan. Maka aku mengajak temanku untuk menghitung berapa orang yang keluar ruangan itu sedang telpon dan berapa yang tidak. Ternyata hampir 80% orang yang keluar rumah makan itu melakukan aktifitas dengan HP nya. Entah kirim SMS atau telpon. Seolah ada keharusan untuk melakukan aktifitas dengan HP nya.

Keterlekatan manusia pada HP sedemikian erat. Mereka mengaktifkan HP dimana saja, entah pada waktu luang bahkan dalam acara-acara resmi dan sakral. Dalam rapat tidak jarang terdengar bunyi HP. Dalam perayaan ekaristi dimana manusia seharusnya berdoa juga terdengar bunyi HP atau orang sibuk berkirim SMS atau aktif menelpon, sehingga di beberapa gereja diberi tanda agar HP tidak diaktifkan bahkan ada yang memasang alat untuk mengacak signal. Sebuah surat kabar memberitakan bahwa biaya untuk pembelian pulsa di Jogjakarta, yang dikenal sebagai kota pelajar dan mahasiswa, ternyata jauh lebih besar daripada biaya pembelian buku. Bagiku HP bukan lagi alat yang mempermudah manusia untuk berkomunikasi melainkan alat yang sudah menguasai manusia. Secara tidak sadar manusia dibuat bergantung pada HP. Dia tidak lagi mampu menjadi manusia yang bebas. Bila dia adalah manusia bebas maka dia tidak gelisah ketika tidak ada HP atau tidak merasa harus mempunyai HP atau tidak harus mengaktifkan HP dimana saja berada. Namun kenyataannya tidak. Banyak orang lebih memilih mengurangi apa saja demi memiliki HP bahkan tega melakukan tindak kekerasan demi memiliki HP. Ternyata secara tidak sadar jaman Terminator sudah terjadi meski baru tahun 2008.

1 komentar:

  1. Kemajuan tehnologi tidak bisa dihalangi apalagi jika memiliki dampak "Positif Besar". Positif atau negatif, besar atau kecil tergantung dari sudut masing2 org melihatnya.
    Memang seharusnya ada peraturan dan sopan santun dalam menggunakan hp, mungkin sudah waktunya ada pelajaran tambahan mulai SD ya ttg aturan dan tata tertib menggunakan selular ?? sehingga kesan diperbudak teknologi bisa berkurang.

    BalasHapus