Sabtu, 23 Juli 2011

KERAJAAN SORGA


“Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:45-46)

Yesus mengajarkan kerajaan sorga dengan berbagai perumpamaan. Kerajaan sorga bukanlah situasi pada saat setelah manusia mati saja, melainkan gambaran kerajaan sorga sudah ada di bumi yaitu bila manusia mampu menciptakan situasi yang damai, tentram, bahagia, dan rukun, sebab semua anggotanya hidup berdasarkan kasih yang penuh pengorbanan. Orang yang menemukan situasi ini akan rela melepaskan semua apa yang dimilikinya. Seorang teman mengatakan bahwa ajaran ini terlalu berlebihan, tapi sebetulnya tidak. Situasi yang tercipta dalam kerajaan sorga sangat diharapkan oleh seluruh manusia di muka bumi. Maka salah satu permohonan dalam doa Bapa Kami adalah menjadikan bumi seperti di dalam sorga.

Tapi situasi ini tidak mudah dicapai. Selama ribuan tahun sejarah manusia mencatat aneka peperangan. Mungkin belum pernah sehari pun di bumi tidak ada pertengkaran, pembunuhan, bahkan dalam skala lebih besar yaitu peperangan antar bangsa. Sejarah mencatat beberapa kali terjadi perang besar yang menelan kurban harta benda yang sangat besar dan jutaan jiwa manusia. Belum lagi pertengkaran dalam skala kecil di dalam rumah tangga dan masyarakat sekeliling kita yang membuat hidup menjadi seperti di neraka. Mengapa disatu sisi orang berharap terjadinya situasi damai tapi disisi lain mereka melakukan kekerasan dan perseteruan?

Mungkin kita masih ingat film komedi satire tentang kehidupan manusia yang berjudul The Gods Must Be Crazy (1980) yang dibintangi secara bagus oleh N!xau dan Marius Weyers. Film itu mengisahkan kehidupan manusia semak yang sangat berbeda dengan manusia modern. Manusia semak yang tinggal di gurun Kalahari hidup rukun dan selalu ceria sampai semua rusak akibat kehadiran sebuah botol Coca Cola yang dilemparkan oleh seorang pilot dari jendela pesawat terbang. Mereka kagum terhadap botol itu sebab mutifungsi. Botol itu digunakan untuk menumbuk, menggiling, membuat lubang dan sebagainya. Tiba-tiba semua orang ingin menggunakan botol itu dan merasa bahwa kepentingannya menjadi paling penting. Akhirnya mereka saling berebut sebab botol itu belum selesai mereka gunakan. Terjadi pertengkaran dan pemukulan. Suatu hal yang belum pernah mereka lakukan. Pada malam hari dimana biasanya mereka bercerita dan bergembira tiba-tiba semua menjadi kehilangan kegembiraannya, sebab merasa malu telah melakukan kekerasan. Akhirnya Xi berusaha membuang botol yang dianggapnya kekuatan jahat ke ujung dunia.

Kegembiraan orang semak hilang akibat orang mulai mempunyai keinginan untuk memiliki dan merasa bahwa kepentingannya harus didahulukan. Dua sikap inilah yang kerap menjadi awal perselisihan yang menghilangkan persaudaraan dan kegembiraan. Rasa ingin memiliki dan ingin didahulukan dapat terus berkembang menjadi sifat keserakahan dan kesewenang-wenangan yang merugikan sesama. Yesus mengajar agar para murid tidak berusaha menjadi yang utama, melainkan menjadi hamba yang melayani dan menjadikan apa yang dimiliki menjadi milik bersama. Orang tidak lagi terlekat pada apa yang dimilikinya sehingga dia rela berbagi dengan sesama. Bila hal ini terjadi maka terciptalah kerajaan sorga yang sangat didambakan oleh semua orang.

Dengan demikian kerajaan sorga bukanlah sesuatu yang kita nantikan dengan hanya memusatkan diri pada ibadah tapi adalah sebuah usaha bersama untuk membangun kehidupan yang lebih baik lagi yaitu dengan mengasihi sesama manusia. Kasih yang rela berkorban seperti yang telah diteladankan oleh Yesus sendiri. Pada jaman yang semakin egois seperti saat ini tampaknya kerajaan sorga semakin kabur dan sulit terbentuk. Maka perlu adanya perubahan dari diri sendiri untuk mulai hidup penuh kasih dan melepaskan keinginan untuk memiliki dan menjadi utama.

0 komentar:

Posting Komentar