Minggu, 24 Juli 2011

MAKAN DI RESTORAN MEWAH

Suatu hari aku diajak oleh seseorang untuk makan di sebuah tempat yang sangat mewah. Dia ingin agar aku bisa merasakan situasi yang berbeda dari yang sering aku alami di tengah kaum sederhana dan warung sederhana di trotoar. Memasuki suatu ruang yang mewah dan penuh makanan yang asing bagiku membuatku bingung mau makan apa terlebih dahulu. Temanku menunjukkan apa yang sebaiknya aku makan. Ketika sedang makan seorang pelayang mengamatiku dengan tatapan yang aneh. Aku bertanya pada temanku kenapa pelayan itu melihatku dengan tatapan yang aneh? Temanku meminta agar aku mengabaikan saja. Dia sadar bahwa aku merasa tidak nyaman berada di tempat ini.

Temanku tersenyum sambil berbisik dia mengatakan agar aku menurunkan kakiku dari kursi. Memang aku sedang duduk bersila di atas kursi. Aku terbiasa duduk seperti itu, sebab bagiku cara duduk seperti itu sangat nyaman. Setelah selesai makan, temanku bertanya bagaimana makan di tempat itu? Aku katakan bahwa makanan menjadi tidak nyaman sebab terlalu banyak tata cara yang membuatku tidak nyaman.

Kita mempunyai banyak tata cara saat dalam kehidupan, meski tata cara suatu daerah dapat berbeda dengan daerah yang lain. Sebagian orang berpendapat bahwa pada saat makan orang tidak boleh berbicara. Sedangkan sebagian lagi mengatakan bahwa saat makan adalah saat yang nyaman untuk mengadakan pembicaraan. Sering kali tata cara hanya untuk menambah keindahan atau kesopanan bukan untuk menambah hakekat yang dari yang sedang dikerjakan. Ketika makan di tempat mewah itu aku dihadapkan pada beberapa sendok, ada kain besar yang harus aku letakkan di paha, ada urutan masakan yang harus kumakan dan sebagainya. Bagiku sendok adalah alat untuk mempermudah memasukan makanan ke dalam mulut, maka aku tidak peduli mau sendok sup atau sendok nasi. Hal yang terpenting bagiku adalah makanan itu terasa enak di mulut dan berguna bagi tubuhku. Maka mengapa orang mempersoalkan sendok yang kugunakan bukan rasa makanan dan kegunaan makanan bagi tubuhku? Mengapa orang mempersoalkan caraku duduk bukan mempersoalkan kenikmatan yang kuperoleh? Apakah bila aku duduk dengan rapi maka akan lebih menikmati makanan?

Sering orang terpaku pada tata cara sehingga melupakan hakekatnya. Suatu hari Yesus ditegur oleh orang Farisi mengapa murid-muridNya makan tanpa cuci tangan? Orang Farisi sangat teguh dalam memegang tata cara. Bagi mereka keselamatan akan didapat bila mereka mentaati semua tata cara yang sudah ditetapkan. Banyak tata cara sampai hal yang terkecil dan sederhana pun harus diikuti. Mencuci peralatan dapur pun ada tata caranya yang harus dijalankan. Yesus mengkritik mereka sebab mereka terlalu memusatkan perhatian pada pelaksanaan tata cara sedetil mungkin bukan mencari hakekat yang terdalam dari apa yang mereka kerjakan.

Apa yang dilakukan oleh orang Farisi pun terus terjadi sampai saat ini. Orang terpusat pada tata cara liturgi saat misa sampai dia melupakan apakah hakekat misa itu. Baginya misa yang baik adalah bila semua tata cara dijalankan dengan urut dan benar. Padahal misa adalah sakramen kesatuan antara Allah dengan manusia dan manusia dengan sesamanya. Hakekat ini sering diabaikan sebab lebih memperhatikan tata cara. Bila terlalu memusatkan diri pada tata cara, maka sebagian orang mungkin tidak dapat merasakan kenikmatan misa. Seperti ketika aku disibukkan untuk menjalankan semua tata cara makan di sebuah rumah makan mewah sehingga aku tidak dapat menikmati makanan. Maka aku merasa lebih nyaman makan di warung sederhana dimana aku makan demi makan tanpa harus disibukkan dengan tata cara.

0 komentar:

Posting Komentar