Senin, 04 Oktober 2010

BERSYUKUR

Suatu malam aku datang ke rumah singgah. Kulihat beberapa anak bergelimpangan di lantai rumah tanpa alas. Ketika melihatku datang mereka langsung bangun dan ribut. Satu anak dengan yakin mengatakan kebenaran ramalannya bahwa aku akan datang. Mereka mengeluh bahwa seharian belum makan. Hari itu mereka tidak bisa mengamen karena ada operasi. Mereka tidak punya uang sama sekali, sehingga seharian mereka tidak makan. Perkataan semacam ini sudah sering kudengar bila mereka membutuhkan uang. Selalu saja ada alasan yang dibuat memelas agar aku memberi uang. Melihatku hanya tersenyum mereka mulai berusaha merayu agar dibelikan makan. Akhirnya aku menyerah. Aku menyuruh mereka mencari penjual makanan yang biasanya lewat.

Pernyataanku ini membuat semua anak berteriak. Beberapa anak berhamburan keluar mencari Mas Budi, penjual tahu tek-tek yang biasanya lewat tengah malam. Mereka juga meminta uang untuk membeli es teh dan mulai membagi tugas siapa yang beli es teh dan jumlah yang harus dibeli. Sebagian mulai membersihkan piring, sendok dan tempat minum untuk es teh serta gelas-gelas. Mereka berpesan pada teman yang membeli es teh agar uang tidak dihabiskan sehingga dapat untuk membeli rokok yang paling murah. Wajah-wajah yang semula tampak lesu menjadi sumringah. Tidak lupa ucapan terima kasih, pujian dan pelukan atau jabatan tangan mulai berdatangan padaku. Rumah singgah yang semula sepi mulai ramai dan hidup.

Anak-anak bersyukur sebab mereka merasa bahwa malam ini akan dilalui dengan perut lapar, sebab seharian tidak dapat mencari uang. Mereka tidak menduga bahwa aku akan datang, sebab aku sudah mengatakan kepada mereka bahwa selama beberapa hari tidak ada di rumah dan tidak bisa datang ke rumah singgah, sebab pergi keluar kota. Mereka pun bercerita bahwa tadi sore mereka hanya mampu mengandaikan aku ada. Seorang anak yakin bahwa aku akan datang, tapi sampai pukul 21 aku belum datang maka mereka menyerah. Mereka pasrah bahwa malam ini akan dilalui dengan perut lapar. Maka ketika aku datang hampir pukul 23, maka mereka sangat gembira.

Kebahagiaan dan rasa syukur akan sangat berlipat ganda bila dalam kondisi yang membutuhkan tiba-tiba ada pertolongan dari orang yang tidak kita duga. Sepuluh orang kusta berteriak-teriak minta tolong pada Yesus, sebab mereka tidak mungkin berada di dekat Yesus. Satu dari mereka adalah orang Samaria. Mungkin orang Samaria itu hanya diam saja, sebab dia sebagai orang Samaria merasa tidak pantas untuk meminta pada Yesus apalagi dia sakit kusta. Dia memiliki dobel ketidakpantasan. Ketika Yesus menyuruh mereka ke tempat para imam, mungkin orang Samaria itu hanya mengikuti saja kemana teman-temannya pergi. Di tengah jalan dia sadar bahwa dia sembuh, maka dia sangat bersuka cita. Dia tidak mengira bahwa kesembuhan itu juga terjadi padanya sebagai orang Samaria.

Bagi orang Yahudi kesembuhan itu sudah menjadi haknya, sebab Yesus datang dan diutus untuk mereka. Maka mereka berhak untuk mendapatkan kesembuhan dari Yesus. Bagi orang Samaria kesembuhan ini adalah sesuatu yang tidak diduga. Suatu berkah yang sangat besar. Akibatnya orang Samaria itu kembali pada Yesus untuk menyembah Dia sedangkan orang Yahudi meneruskan perjalanan ke tempat imam agar mereka dipulihkan kembali hak-haknya yang telah hilang akibat penyakit kusta, sebab hanya imam yang dapat memulihkan kembali hak mereka di tengah masyarakat.

Dalam hidup kita sering melupakan bersyukur sebab merasa bahwa apa yang kita peroleh adalah sesuatu yang seharusnya atau sudah sepantasnya kita peroleh. Kita mendapat rejeki hari ini atau keselamatan pada hari ini, semua itu kita anggap sudah sewajarnya sebab kita bekerja keras atau tidak melakukan hal yang membahayakan. Tapi semua itu akan berbeda bila kita memperoleh sesuatu yang tidak kita duga. Maka setiap hari kita harus menemukan sesuatu yang mengejutkan sehingga kita dapat seperti orang Samaria atau anak-anak yang ada di rumah singgah.

0 komentar:

Posting Komentar