Selasa, 05 Oktober 2010

KEINDAHAN

“Dua hal yang membangkitkan ketakjuban saya yaitu langit bertaburkan bintang di atas dan alam semesta yang penuh hikmah di dalamnya.” (Albert Einstein). Bagi kita melihat langit yang bertaburan bintang pada malam hari adalah hal biasa. Begitu biasanya kita sampai tidak peduli atau mau meluangkan waktu sejenak untuk melihatnya. Apalagi di kota dimana cahaya kerlip bintang terkalahkan oleh cahaya lampu di jalan atau papan reklame yang terang benderang. Sebagian orang baru menikmati keindahan bintang ketika di tengah alam pedesaan atau saat jauh dari kota yang terang benderang. Bagi orang yang tinggal di desa dan jauh dari gemerlap lampu taburan bintang di langit adalah hal biasa dan mungkin tidak membuatnya takjub. Mereka melihat bintang untuk menentukan arah mata angin atau musim. Bila melihat bintang “gubuk penceng” berarti arah selatan. Bila gubuk penceng itu mengarah ke barat maka musim kemarau.

Melihat alam dapat membuat sebagian orang menjadi takjub sedang sebagian yang lain merasa hal biasa saja. Sebagian orang merasa takjub ketika melihat di tempat tertentu sedangkan orang lain merasakan ketakjuban dimana saja dia berada. Rasa takjub muncul bila orang mengagumi sebuah keindahan atau kemegahan atau sesuatu yang tak terbayangkan. Melihat warna langit saat senja yang kemerahan seperti sebuah sapuan kuas di atas kanvas yang selalu berbeda dari hari ke hari membuat orang menemukan sesuatu yang diluar bayangannya. Bagaimana mungkin alam mampu menciptakan warna warna yang indah seperti itu.

Kekaguman timbul bila kita melihatnya sebagai yang tidak biasa. Seorang nelayan merasa heran ketika aku duduk di pantai menganggumi matahari yang tenggelam. Baginya tidak ada yang indah, sebab dia biasa melihatnya setiap hari. Hal ini berbeda dengan pendapat seorang rahib di Rowoseneng. Ketika aku duduk di dekat makam yang terletak di belakang pertapaan menikmati keindahan alam, seorang rahib datang dan bertanya apa yang sedang kulakukan. Ketika kujawab sedang menikmati alam, dia mengatakan aku seorang kontemplatif. Mengagumi alam akan membawa kita dalam pencarian Allah dan dapat mendekatkan diri pada Allah yang menciptakan semua itu.

Einstein mengagumi bintang di langit sebab dia seorang fisikawan. Tapi bila dia ahli biologi mungkin dia akan mengagumi tubuh manusia yang indah dan tak terbayangkan. Pernah aku dikirimi oleh seorang teman foto-foto yang sangat indah, ternyata itu adalah foto sel darah merah, dinding usus dan sebagainya. Betapa indahnya organ yang ada dalam tubuhku. Belum lagi cara kerja organ-organ tubuh yang tidak terbayangkan, rumit dan cepat. Bagaimana cepatnya ketika otakku mereaksi kata yang kudengar lalu menentukan kata yang akan kujawab. Betapa hebatnya organ-organ dalam tubuh yang dapat bekerja saling terkait tanpa aku kontrol sama sekali.

Rasa kagum itu tidak akan pernah muncul bila kita melihatnya sebagai hal biasa dan tidak berusaha memikirkannya. Aku merasa jantung yang berdetak adalah hal biasa sehingga aku tidak perlu memikirkannya. Aku baru memikirkannya bila jantungku tidak berdetak dengan baik. Aku menjadi seperti nelayan yang melihat matahari terbit dan tenggelam setiap hari kehilangan rasa kagum. Bahkan tidak peduli akan keindahannya, sebab merasa sama setiap hari. Bahkan mungkin menjadi sebuah keluhan, bila kerja belum selesai tapi matahari sudah tenggelam.

Dalam hidup kita sering merasa bosan sebab bertemu dengan orang yang sama. Kita juga bosan dengan pekerjaan yang sama dari hari ke hari. Kebosanan muncul sebab kita tidak mampu melihat keindahannya lagi. Maka kita perlu mencari keindahan yang membuat kita takjub. Hal ini sulit bila dalam hati kita sudah ada antipati atau kebencian, yang menutup segala keindahan. Keindahan akan hilang bila dalam hati kita sudah membayangkan kesamaan. Keindahan senantiasa ada setiap saat, seperti keindahan matahari sore yang selalu berbeda setiap harinya. Keindahan teman atau pekerjaan berubah setiap hari asal kita melepaskan pengandaian dan kebencian dari dalam hati.

0 komentar:

Posting Komentar