Sabtu, 16 Oktober 2010

MERASAKAN CINTA ALLAH

Ketika ibu masih hidup hampir setiap minggu aku meluangkan waktu untuk menengok dia di Malang. Terkadang aku hanya makan dan ibu dengan setia menunggui saat aku makan atau aku mengantarnya ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan hidup atau hanya duduk berdua sambil mengobrol ringan. Aku tidak bisa berlama-lama di rumah ibu, sebab harus kembali ke Surabaya. Pertemuan-pertemuan singkat ini tampak sederhana tapi sangat besar artinya bagi kami berdua. Kami memperteguh cinta kami meski kami tidak sering berkata-kata. Sering kali kami hanya duduk-duduk saja berdua. Namun dalam keheningan itu aku merasakan cinta yang terdalam. Lebih dalam dari sekedar kata-kata. Kadang ibu menatapku dengan penuh cinta atau secara sederhana mengelus rambutku atau tindakan kecil yang menunjukkan cinta.

Bila aku sedang mengalami masalah maka aku berusaha pulang untuk bertemu ibu. Aku tidak menceritakan segala pergulatanku sebab aku yakin bahwa ibu tidak akan mampu membantu menyelesaikannya. Pergulatanku dalam pendampingan anak-anak jalanan, pertemanan dengan para aktifis yang dicari penguasa, masalah iman dan sebagainya, semua itu tidak dikuasai oleh ibu yang sederhana. Kalau aku bercerita ibu hanya mendengarkan dan menghela nafas. Tidak ada kata atau saran yang keluar dari bibirnya. Beberapa kali hanya mengatakan hal biasa seperti sabar saja, banyak berdoa, berserah pada Gusti Allah dan sebagainya.

Dalam kehidupan beriman aku pun sering datang pada Tuhan melalui sakramen, doa atau refleksi. Dalam pertemuan dengan Tuhan aku berusaha mengungkapkan semua masalahku, meski aku sadar bahwa Tuhan tahu apa yang sedang terjadi dan kualami. Tapi aku ingin mengatakan. Aku tahu bahwa ketika aku mengatakan aku tidak akan mendapat jawaban dari Tuhan apa yang harus aku selesaikan. Tuhan pun tidak akan datang mengambil alih masalahku. Tapi kesadaran akan cintaNya membuatku akan bertahan menghadapi masalahku. Kesadaran akan cinta Tuhan dapat tumbuh dalam hati bila aku berusaha merasakannya dan berusaha mencintaiNya. Rasanya sulit bila aku tidak mempunyai cinta pada Tuhan berusaha merasakan cinta dari Tuhan. Sama bila aku membenci ibuku, maka aku tidak akan pernah merasakan cintanya, sebab dalam pikiranku hanya ada kebencian.

“Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." (Yoh 21:15). Yesus bertanya pada Simon sampai 3 kali dengan pertanyaan yang sama. Dia tidak bertanya, “Simon Aku mencintai kamu, apakah kamu mencintai Aku?” Cinta Allah sudah ada sepanjang hidup, hanya kita sering tidak merasakannya. Kita mengeluh Allah tidak adil. Tuhan tidak mendengar doa kita dan berbagai macam keluhan yang lain. Hal ini mungkin kita kurang mencintai Allah. Kita hanya mencintai diri sendiri dan memaksa Allah mencintai kita seperti yang kita inginkan. Atau kita mencari cinta Allah yang nyata dalam perbuatan atau kejadian yang dapat diindrai seperti kesembuhan dari sakit parah atau kejadian menganggumkan yang lain. Kita tenggelam dalam kesibukan mencari cinta Allah sehingga tidak merasakan cintaNya.

Cinta Tuhan dapat kita rasakan kalau kita mau hening. Dalam situasi yang diam aku dan ibu dapat merasakan cinta yang mengalir dari diri kami. Aku menatap wajah ibu yang semakin tua sambil mengenang kembali segala yang pernah kurasakan. Dalam hening aku masuk melihat semua peristiwa yang pernah aku alami bersamanya. Aku tidak disibukkan mencari kata dan bahan pembicaraan. Aku hanya berusaha menikmati pengalaman kasihnya. Demikian pula dengan Allah. Aku tidak perlu sibuk berbicara mengatakan masalahku. Aku hanya diajak diam untuk melihat dan merasakan kembali semua karya kasihNya. Dalam hening bukan lagi bibir yang berbicara tapi hati. Tapi ada pula orang percaya bahwa dengan lagu yang gegap gempita dan doa yang ribut dia mampu merasakan kasih Allah. Mungkin dia hanya mampu menyatakan kasih Allah dari pengalaman orang lain tapi tidak mampu merasakannya bagi dirinya sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar