Sabtu, 23 Oktober 2010

SUPERMAN


Waktu SMP aku bersama teman-teman nonton film Superman. Seperti layaknya anak-anak yang masih mencari identitas diri, maka aku kadang membayangkan menjadi Superman. Seorang gagah perkasa yang dapat terbang dan berpihak pada kebaikan. Seorang teman pun meniru gaya rambut Superman yang tersisir rapi dan ada sebagian yang menjuntai di dahi. Aku kagum pada pemeran Superman yaitu Christopher Reeve (25 September 1952 – 10 Oktober 2004). Dia begitu gagah, tampan dan tampak tenang dalam menghadapi masalah, meski kadang sangat kikuk saat menyamar sebagai Clark Kent apalagi bila sedang berhadapan dengan Lois Lane. Tapi sayang pada tahun 1995 Christopher Reeve jatuh dari kuda yang mengakibatkannya lumpuh total, sehingga film Superman tidak muncul lagi atau memang sudah habis ceritanya.

Aku membayangkan seandainya suatu malam Christopher Reeve duduk di atas kursi rodanya sambil menonton film Superman yang dibintanginya apa yang dia rasakan? Di film dia memerankan tokoh super hero yang dapat terbang dan mempunyai tubuh super kuat sehingga tidak mempan berbagai senjata. Tapi dalam kehidupan nyata dia hanya mampu duduk di atas kursi roda tanpa daya. Pasti pada awal kelumpuhan bukan saat yang mudah baginya. Dia aktor yang terkenal dan identik dengan Superman tapi kini tidak berdaya. Suatu pengalaman hidup yang sangat getir.

Harold S Kushner dalam bukunya yang berjudul “Ketika Mimpi-Mimpi Tak Terwujud” memberi saran pada saat orang menderita agar tidak memfokuskan diri pada apa yang telah diambil dari kita tapi memfokuskan apa yang masih ada pada kita. Pada saat kehilangan kita sering memfokuskan diri pada apa yang hilang. Hidup menjadi penuh penyesalan diri dengan membayangkan seandainya tidak begini atau begitu sehingga petaka itu tidak menimpanya. Christopher Reeve pun dapat membayangkan andai dia tidak mengikuti olah raga berkuda mungkin dia tidak akan jatuh yang menyebabkan kelumpuhan. Rasa penyesalan ini dapat menimbulkan rasa frustasi bahkan depresi. Beberapa orang menjadi kehilangan gairah hidupnya bahkan berusaha bunuh diri.

Kita sering kali marah dan kecewa bila apa yang ada pada kita atau menjadi milik kita hilang. Seorang menjadi mudah marah dan histeris sejak anak lelakinya meninggal. Seorang suami meninggalkan imannya ketika istrinya meninggal. Dia merasa Allah sangat kejam dan tidak adil. Mengapa istrinya meninggal padahal anak-anak mereka masih kecil-kecil dan membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Kita semua tahu bahwa apa yang kita miliki di dunia ini tidak ada yang kekal. Saat ini menjadi milik kita besok mungkin sudah bukan menjadi milik kita lagi. Maka kehilangan adalah sesuatu yang akan terjadi dalam hidup kita meski kita tidak tahu waktunya.

Saran Kusher sangat positip yaitu kita diajak untuk fokus pada apa yang masih ada. Ketika istri meninggal maka suami itu diharapkan memfokuskan diri pada anak-anak bukan tenggelam dalam kekecewaan akibat ditinggalkan istrinya. Memfokuskan diri pada apa yang ada membuat orang akan berusaha bangkit dan terus berjuang. Dia tidak larut dan tenggelam dalam kekecewaan tapi akan melanjutkan hidupnya dengan penuh semangat. Hal ini memang tidak mudah, sebab kita ingin mencengkeram apa yang seolah menjadi milik kita. Kita dapat belajar dari Ayub. Ketika dia kehilangan semua yang dimilikinya, maka dia mengucapkan doa pendek, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayb 1:21).

Segala yang ada dalam diri kita bukanlah milik kita untuk selamanya. Maka semua itu kita letakkan dalam tangan terbuka. Dengan telapak tangan terbuka lebar maka Tuhan bebas meletakkan atau mengambil segala sesuatu dari atasnya. Rasa sakit disebabkan kita berusaha menggenggamnya. Semakin erat genggaman akan semakin sakit bila hal itu ditarik dari genggaman. Hal ini membutuhkan sikap rendah hati yang mengatar pada sikap pasrah sebagai orang beriman. Kita menyerahkan semua milik kita pada Allah, sehingga apabila Allah mengambilnya maka kita tidak akan goyah seperti Ayub.

0 komentar:

Posting Komentar