Senin, 18 Oktober 2010

KETELADANAN

Ibu pada usia tuanya bila berdiri tidak mampu tegak. Tubuhnya menjadi agak bongkok. Apalagi bila berjalan maka akan terbongkok-bongkok seolah sedang memikul beban di punggungnya. Jalannya pun tertatih-tatih tampaknya kakinya sudah lelah menyangga tubuh dan digunakan berjalan sepanjang hidup. Meski fisiknya sudah rapuh tapi ibu tidak mau duduk berdiam diri saja. Dia selalu bergerak. Ada saja yang dilakukan mulai dari membersihkan rumah sampai jalan di depan rumah. Ibu tinggal di sebuah komplek perumahan. Beberapa rumah kosong dan rusak tidak terrawat. Rumput tumbuh subur di depan rumah dan jalanan. Maka setiap hari ibu membersihkan jalan dari ujung gang sampai ke ujung yang lain. Mencabuti rumput atau memotong dahan pohon yang mengotori jalan. Semua itu dilakukan dengan suka cita.

Tindakan ibu membersihkan jalanan membuat para tetangga yang lebih muda menjadi malu bila jalanan di depan rumahnya ditumbuhi rumput. Mereka yang semula tidak peduli pada jalan di sekitar rumah-rumah kosong yang tampak kumuh mulai tergerak untuk ikut membersihkan kotoran dan rerumputan. Mereka mengatakan malu sebab melihat eyang, panggilan ibu, membersihkan jalan. Manusia membutuhkan teladan yang mampu menggerakkan dirinya. Sebetulnya di dalam hati manusia sudah tahu apa yang harus dilakukan, tapi untuk mewujudkannya dalam sebuah tindakkan sering kali membutuhkan sebuah keteladanan. Dia ingin melihat orang lain dulu yang melakukan.

Dalam hati manusia sudah tahu bahwa melayani adalah sebuah tindakan yang baik. Tapi Yesus harus memulai dulu memberikan teladan melayani. “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh 13:14-15). Orang enggan untuk memulai sebab mereka berpikir tentang kepentingan dirinya. Dia memusatkan pada kenyamanan dirinya, atau tidak mau mengambil resiko, sehingga cenderung pasif. Keteladanan membutuhkan sikap aktif dan terpusat pada sesama.

Dalam dunia yang semakin egois dan individualis seperti jaman ini sangat dibutuhkan orang-orang yang berani memberikan teladan untuk melakukan perbuatan baik. Memberi teladan hidup baik bukanlah hal yang mudah. Orang harus rela berkurban dan tidak memusatkan hidup pada diri tapi pada sesama. Kadang kala dia harus berjalan sendirian dan dapat menimbulkan kesepian dan rasa frustasi. Maka tidak jarang orang mengakhiri tindakan baik, sebab orang disekitarnya tidak mau terlibat. Dia merasa lelah bila harus berjuang seorang diri. Akhirnya dia tidak memberikan keteladanan lagi.

Memberi keteladanan bukan mencari pujian. Dia hanya ingin memberikan contoh pada orang di sekitarnya. Agar orang disekitarnya pun terlibat untuk menyelesaikan situasi atau kondisi yang kurang menyenangkan yang terjadi di sekitarnya. Tapi mengajak orang untuk terlibat dalam masalah bersama bukanlah hal mudah, sebab terlibat dalam urusan sesama dianggap menambah beban hidupnya. Meskipun mungkin dirinya juga merasa kurang nyaman dengan situasi yang ada. Semua orang mengeluh soal korupsi yang terjadi di negara kita yang sudah merambah ke seluruh bidang kehidupan. Seruan anti korupsi dibicarakan dalam banyak forum, tapi korupsi tetap merajalela sebab orang enggan terlibat memberantas korupsi. Bila ditilang orang lebih suka menyogok polisi daripada melakukan sesuai prosedur. Alasan yang sering dikatakan adalah lebih mudah dan tidak membuang waktu. Bila demikian kita ikut melanggengkan korupsi.

Banyak orang telah memberikan teladan hidup yang baik. Kita sering membicarakan dengan kagum akan keteladannya. Tapi kita enggan terlibat. Keteladanan seseorang bukan untuk pamer melainkan untuk menggerakkan kita agar mau terlibat dalam aneka masalah yang membuat hidup kita tidak nyaman. Disini membutuhkan kepekaan hati, keberanian dan komitmen diri untuk meninggalkan kenyamanan diri sendiri demi suatu kebaikkan yang diimpikan bersama.

0 komentar:

Posting Komentar