Kamis, 14 Oktober 2010

YESUS DAN PEREMPUAN KANAAN: BERJAGA


Ketika perempuan Kanaan itu berteriak-teriak meminta pertolongan, para murid merasa terganggu. Maka mereka meminta pada Yesus agar mengusir perempuan itu. “Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.” (Mat 15:23). Para murid semula berharap bahwa kepergian mereka ke daerah kaum bukan Yahudi maka mereka tidak akan terganggu oleh orang yang meminta tolong. Mereka dapat bebas besama Yesus. Ternyata harapan itu sia-sia. Disini mereka bertemu dengan perempuaan Kanaan yang mungkin berteriak-teriak dengan suara keras atau histeris meminta agar Yesus menolong anaknya. Mungkin mereka tidak kuasa lagi untuk mengusir perempuan itu sehingga mereka meminta pada Yesus agar Dia mengusir perempuan itu.

Kita sering menginginkan memiliki waktu pribadi dimana kita dapat melakukan apa yang kita inginkan bagi diri kita atau menikmati segalanya untuk diri sendiri. Kita bebas melakukan segala sesuatu tanpa ada orang yang meminta pertolongan atau meminta kita untuk melakukan sesuatu. Maka kita ingin mencari tempat sepi atau tempat asing yang melepaskan kita dari segala rutinitas atau kesibukan yang harus kita jalani setiap harinya. Kita melepaskan segalanya dan menikmati waktu yang kita miliki. Suatu hari aku pernah akan pergi ke Jakarta naik kereta malam. Seharian aku bergerak dari satu tempat lain dan berharap nanti di kereta aku dapat tidur panjang atau membaca novel yang masih belum selesai kubaca. Ternyata di kereta aku duduk bersebelahan dengan seorang ibu setengah baya. Ketika makan ibu ini bertanya apakah aku seorang imam sebab melihat caraku berdoa sebelum makan seperti seorang imam. Ketika aku jawab ya maka dia mulai bercerita tentang penderitaannya. Sepanjang malam dia bercerita seolah ingin menumpahkan semua penderitaannya. Dalam hati aku bertanya mengapa aku harus duduk dengan seorang ibu beragama Katolik yang mempunyai masalah berat? Apakah Allah tidak mengijinkan aku ingin menikmati waktuku untuk sendiri?

“Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.” (Luk 12:37). Yesus memuji hamba yang siap sedia untuk melayani tuannya kapan saja tuan itu datang. Kaum miskin dan menderita adalah tuan yang perlu dilayani kapan saja dia datang. Dia seperti tuan yang tidak peduli apakah yang sedang kita alami dan rencanakan. Bila kita ingin menjadi hamba yang baik maka kita akan bergegas melayani tuan kita. Kita siap meninggalkan kenikmatan yang kita alami demi tuan kita.

St Vincentius dalam sebuah suratnya menulis “Bila Anda terpaksa meninggalkan doa untuk melayani orang miskin, jangan cemas karena itu berarti meninggalkan Tuhan untuk bertemu dengan Tuhan dalam diri orang miskin,” Bagi St. Vincentius orang miskin adalah Tuhan yang harus didahulukan dan diutamakan. Maka kita diajak meninggalkan doa-doa kita demi kaum miskin. Hal ini bukan berarti kita tidak perlu berdoa, sebab St. Vincentius pun menekankan pentingnya doa dalam pelayanan. Tapi kita tidak boleh mengabaikan kaum miskin yang datang, sebab Yesus ada dalam diri kaum miskin.

Kesigapan untuk melayani kaum miskin yang datang pada kita kapan saja dia mau membutuhkan dalam diri kita semangat untuk rela berkorban dan matiraga. Dengan matiraga maka kita berusaha meninggalkan atau mengabaikan segala kepentingan diri demi orang lain. Kita berani memilih jalan yang kurang mengenakkan demi orang lain daripada jalan yang menyenangkan demi diri sendiri. Matiraga adalah kesanggupan kita untuk mengarahkan seluruh perhatian diri kita bagi kepentingan orang lain. Kita tidak lagi memiliki waktu, keinginan, bahkan diri kita lagi. Kita siap memberikan semuanya kepada orang yang membutuhkan seperti Yesus yang telah memberikan semuanya bagi keselamatan kita. Dasar matiraga adalah cinta kepada Allah dan kesadaran bahwa Allah telah mencintai kita terlebih dahulu. Segala yang ada pada kita adalah pemberian Allah yang suatu saat dapat dimintanya kembali melalui orang miskin.

0 komentar:

Posting Komentar