Minggu, 03 Oktober 2010

KEKERASAN MELAWAN CINTA

Akhir-akhir ini banyak sekali terjadi kekerasan dalam skala besar. Mulai dari penusukan pendeta, kekerasan antar kampung, kekerasan antar pendukung orang, kekerasan antar suku, sampai kekerasan antar sesama orang yang mengimani agama yang sama. Aku rasa masih akan muncul lagi kekerasan-kekerasan yang lain. Seorang teman berpendapat bahwa mungkin semua itu ada dalangnya yang ingin membuat negara ini kacau balau. Ada yang mengatakan aneka kekerasan ini untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari beberapa soal yang belum terselesaikan di tanah air. Ada pula yang berpendapat bahwa kekerasan ini menjadi cara untuk memukul orang-orang yang dianggap berbahaya oleh negara. Masih banyak lagi pendapat yang membuat kepalaku jadi pusing. Tapi aku tidak menemukan jawab yang sebenarnya.

Pada waktu kecil guruku di SD mengajarkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang paling ramah di dunia. Bangsa yang menjunjung persaudaraan dan berusaha menjaga harmoni. Masih banyak lagi ajaran guru-guru SD dan orang-orang tua tentang bangsa Indonesia yang hebat. Tapi melihat aneka kekerasan yang terjadi maka semua ajaran mereka itu seperti sebuah foto kuno yang sudah berwarna kecoklatan dan terpasang gagah di dalam sebuah lemari kaca. Semua orang hanya memandang sekilas, kecuali orang-orang tua yang masih berusaha mengingat peristiwa yang terjadi dalam foto itu. Mereka hanya mampu memandang sambil mengatakan “Dulu…”

Bangsa kita juga bangsa agamis, istilah yang sering kudengar dalam kotbah-kotbah. Bangsa yang berketuhanan, sehingga menjadi dasar negara yang pertama. Semua orang wajib mempunyai satu agama yang diakui sah oleh pemerintah. Bila tidak mau maka dia akan dicap PKI atau orang komunis. Mereka akan dipersulit bila menikah dan pernikahan mereka tidak diakui oleh negara, sebab pengakuan negara berdasarkan pernikahan oleh salah satu agama yang diakui pemerintah. Bila mereka tidak mendapat surat pengesahan dari negara maka anak mereka tidak akan punya akte kelahiran. Ancaman ini membuat semua orang memasukkan salah satu agama dalam kartu identitasnya. Agama yang dipaksakan ini membuat banyak orang beragama tapi tidak hidup dalam imannya. Ada yang mengaku beriman tapi dalam pandangan yang sempit.

Semua agama mengajarkan bahwa Allah, atau apapun sebutannya bagi Sang Pencipta semesta, mencintai manusia yang merupakan mahluk ciptaanNya yang mulia. Semua agama percaya bahwa Allah menciptakan manusia, bukan hanya aku atau hanya kelompokku atau hanya orang seagamaku, atau hanya orang sesukuku saja. Bila orang sadar bahwa aku dan orang lain adalah ciptaan Allah yang sama, mengapa ada orang yang merasa bahwa dia atau kelompoknya atau orang seagamanya atau orang sesukunya saja yang hebat dan mulia, sehingga dapat menindas orang lain? Apakah Allah hanya menciptakan aku saja sedangkan orang lain entah siapa yang menciptakan atau Allah menciptakan yang paling tinggi adalah aku, lebih rendah lagi adalah kamu, lalu dia, lalu mereka dan seterusnya? Bila demikian ada kesalahan besar dalam agama dengan mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia, yang berarti aku dan kamu.

Pada dasarnya dalam hati manusia yang masih normal, kecuali orang gila, ingin dicintai dan mencintai. Bila orang ingin dicintai dan mencintai mengapa terjadi kekerasan terhadap sesama. Siapa yang akan mencintaiku dan kucintai bila sesamaku kuusir dari lingkunganku? Aku tidak ingin dicintai oleh seekor kucing atau mencintai seekor anjing. Aku ingin subyek cintaku adalah manusia yang setara atau sesamaku. Kekerasan adalah wujud penolakan cinta dan perusakan cinta dari dan kepada sesama. Orang yang tidak merasakan cinta dalam hidupnya dia akan menjadi pribadi yang kesepian. Bila semua orang mendambakan cinta mengapa terjadi kekerasan? Untuk mencintai membutuhkan pertobatan, sebab pertobatan adalah kembali ke cinta Allah dan kembali ke fitrah manusia sebagai ciptaan Allah yang mulia. Cinta yang membawa manusia menyadari bahwa dia dan sesama sehakekat. Maka bangsa ini membutuhkan pertobatan sehingga semua orang dapat mencintai satu dengan yang lain.

0 komentar:

Posting Komentar