Kamis, 14 Oktober 2010

YESUS DAN PEREMPUAN KANAAN: KETEGUHAN CINTA


Dalam Mat 15:21-28 dikisahkan pertemuan Yesus dengan seorang perempuan Kanaan yang memohon kesembuhan bagi anak perempuannya yang kerasukan setan. Saat itu Yesus sedang menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon, sebuah daerah yang dihuni oleh bukan orang Yahudi dan sering disebut kaum kafir, sebab dianggap tidak beragama seperti agama kaum Yahudi. Perempuan itu datang pada Yesus yang sedang dikelilingi oleh para muridNya. Kemungkinan Yesus sedang mengajar secara khusus para murid sebab mereka tampaknya takut pada orang Farisi dan ahli Taurat. Ajaran Yesus dianggap telah melanggar adat istiadat Yahudi dan tidak sesuai dengan ajaran para nabi yang terdahulu, maka para murid mengingatkan Yesus akan ajaranNya “Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi.” (Mat 15:12)

Ketika Yesus sedang mungkin repot dengan para murid, tiba-tiba datang perempuan yang berteriak-teriak. Hal ini sangat mengganggu para murid, maka mereka meminta agar Yesus mengusir perempuan itu. Yesus menanggapi permintaan para murid dengan menunjukkan tugas perutusanNya. Dia diutus untuk menyelamatkan domba yang hilang dari kaum Israel. Tapi jawaban tidak membuat perempuan itu surut. Dia sadar bahwa dia adalah perempuan Kanaan. Bukan salah satu dari orang Israel. Dia tetap memohon pada Yesus untuk keselamatan anaknya. Jawaban Yesus sangat diluar dugaan bagi perempuan itu dan mungkin juga para muridNya. "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."

Sebuah jawaban yang tegas dan sangat menghina. Yesus menyamakan perempuan itu sebagai anjing. Yesus yang terkenal penuh belas kasih dan sangat peduli pada orang yang sedang menderita ternyata menjawab secara kasar pada seorang perempuan yang sedang sangat membutuhkan pertolonganNya. Jawaban dan sikap Yesus ini sangat tidak dapat dipahami dan bertolak belakang dari apa yang ditunjukkan selama ini. Dapat dibayangkan perasaan perempuan Kanaan itu. Dia sangat membutuhkan belas kasih Yesus tapi yang diterima hanyalah sebuah penghinaan.

Ternyata penolakan Yesus tidak membuatnya mundur. Dia terus memohon demi anak perempuannya yang sedang sakit. Cinta pada anak perempuan membuatnya berani menghadapi segala penghinaan dan penolakan. Dia tidak mempedulikan dirinya sendiri sebab seluruh hidupnya hanya tertuju bagi keselamatan anaknya. Cinta semacam inilah yang diharapkan oleh Yesus tumbuh dalam diri para rasul. Cinta yang tidak mudah tergoyahkan meski harus menanggung penghinaan. Cinta yang berani menanggung penderitaan demi orang yang dicintainya.

Yesus sadar bahwa para murid akan menerima penghinaan dan penderitaan akibat memutuskan untuk mengikutiNya. Mereka akan dianggap melawan masyarakat Yahudi sebab menganut ajaran baru yang dianggap berbeda dan melawan adat masyarakat Yahudi yang telah dipertahankan selama beratus-ratus tahun dan dianggap sebagai warisan dari pada nabi pendahulu. Petrus sebagai wakil para murid pun mengalami ketakutan dan meminta agar Yesus mengubah ajaranNya atau menyesuaikan dengan ajaran kaum Farisi dan ahli Taurat. Maka dalam hal ini hanya dibutuhkan cinta yang kuat dan keteguhan dalam tujuan meski ada banyak hal yang harus ditanggung.

Perempuaan Kanaan tanpa sadar sudah digunakan oleh Yesus untuk mengajar para murid tentang cinta dan keteguhan hati. Cinta kita pun sering rapuh. Beberapa orang cerita padaku bahwa dia terpaksa meninggalkan pasangan hidup bahkan keluarganya sebab dia tidak tahan direndahkan oleh mereka. Dia mencintai pasangan dan keluarga tapi bila sering direndahkan maka lebih baik meninggalkan mereka. Dalam mengikuti Yesus pun kita sering direndahkan dan dihina oleh orang lain. Maka kita perlu belajar dari perempuan Kanaan yang memiliki cinta yang besar. Cinta yang membuatnya tetap tegar dan terus mengarahkan hatinya pada Yesus meski harus menelan kepahitan.

0 komentar:

Posting Komentar