Jumat, 22 Oktober 2010

MENGGUNJING

Tetangga sebelah rumahku dulu suka sekali menggunjingkan orang lain. Setiap hari dia selalu menemukan kesalahan atau kelemahan orang lain untuk dibicarakan. Dia bisa tahan berlama-lama dalam menggunjing orang. Aku menjulukinya “tante radio” sebab suaranya yang khas dan seolah tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Tapi aku dilarang untuk menyebut tante radio, sebab kuatir akan terdengar oleh orang itu yang seolah mempunyai seribu telinga dan mata. Ibu paling tidak suka bila tante radio datang. Dia merasa terganggu, sebab harus menemui dan mendengarkan segala berita yang kurang baik tentang orang lain sedangkan ibu harus mengerjakan pekerjaan hariannya. Tapi tante radio tetap bercerita meski tahu ibu sedang repot bekerja.

Tante radio merasa dirinya paling benar dan baik, sehingga dia dapat dengan cepat menunjukkan berbagai kesalahan orang lain. Sering kali orang begitu suka mengamati-amati orang lain dan berusaha menemukan kesalahannya. Seolah dia menjadi hebat bila dapat menemukan dan mengungkapkan sisi negatif sesamanya. Ada rasa puas yang kadang dibalut oleh nada dan wajah penuh keprihatinan yang palsu. Jika dia ingin memperbaiki orang maka dia tidak menceritakan kelemahannya tapi menasehatinya. “Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.” (1Tim 1:5). Rasul Paulus menunjukkan bahwa nasehat muncul dari hati yang penuh kasih dan bertujuan untuk menumbuhkan kasih. Sedang gunjingan muncul bukan dari kasih dan tanpa tujuan.

Dengan membicarakan kelemahan sesama tanpa sadar kita sudah masuk dalam kesombongan diri. Seolah kita lebih baik dan tidak memiliki kelemahan seperti orang yang kita bicarakan. Semua manusia memiliki sisi baik dan buruk. Yesus mengecam keras orang yang berusaha mencari kesalahan orang lain, “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Mat 7:5) Maka kita perlu rendah hati dan menyadari bahwa kita juga memiliki kelemahan. Semakin kita menyadari akan kelemahan diri sendiri dan mau menerimanya sebagai bagian dari diri kita, maka kita akan mudah untuk memahami dan menerima kelemahan orang lain. Sebaliknya bila kita berusaha menolak kelemahan diri sendiri maka kita akan mudah mengadili orang lain, sebab orang lain adalah cermin dari diri kita.

Kesombongan juga akan masuk dalam hidup rohani. Perumpamaan tentang dua orang yang berdoa dalam Luk 18:9-14, satu Farisi dan satu pemungut cukai, menunjukkan bahwa orang Farisi membawa kesombongannya dalam hidup doa. Dia menunjukkan jasanya dan menunjukkan kelemahan pemungut cukai pada Allah. Dia merasa dengan semakin banyak jasa yang ditunjukkan pada Allah maka Allah akan mendengarkan doanya. Allah tahu apa yang kita lakukan, maka tidak perlu kita menunjukkannya. Apalah arti jasa kita dihadapan Allah? Tetapi orang sombong ingin menunjukkan apa yang sudah dikerjakan. Terlebih dia tidak ingin disamakan dengan orang lain yang dianggapnya berdosa. “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain,” (Luk 18:11)

Kesombongan dalam bidang rohani bukan saja seperti yang dilakukan oleh orang Farisi itu, tapi ada banyak hal. Saat ini orang membanggakan bahwa doanya atau gerejanya atau agamanya yang paling benar. Jika demikian maka dia sudah menunjukkan bahwa doa dan agama orang lain tidak benar. Atau orang kecewa sebab doanya tidak dikabulkan Allah. Bukankah Allah berhak menentukan apa saja seturut keinginannya? Mengapa kita kecewa bila kita menyadari diri bahwa kita adalah seorang hamba? Kita kecewa sebab kita merasa bahwa Allah harus mengabulkan apa saja yang kita minta. Inilah bentuk kesombongan yang lain. Untuk itu perlu sikap rendah hati dimana kita menyadari bahwa kita tidak ada apa-apanya dihadapan Allah. Kita pun menyadari bahwa kita manusia lemah yang tidak bedanya dengan orang lain. Kesadaran ini membuat kita tidak akan mudah menggunjing orang lain seperti tante radio.

0 komentar:

Posting Komentar