Minggu, 03 Oktober 2010

BUAT APA SEMUA ITU?

Seorang teman baru saja pulang dari sebuah mall. Dia bercerita baru saja membeli sebuah tas. Aku bertanya apakah dia akan pergi keluar kota atau luar negeri sehingga perlu membeli tas? Dia mengatakan tidak akan pergi kemana-mana, sebab tas yang dibeli hanyalah tas kecil saja. Mendengar itu aku tersenyum sambil menggelengkan kepala, sebab aku tahu bahwa dia sudah mempunyai banyak tas. Ketika melihatku tersenyum dia bertanya mengapa tersenyum? Aku balik bertanya buat apa membeli tas lagi? Dia menjelaskan bahwa sudah lama tidak membeli tas dan kali ini mumpung sedang ada discount besar, maka dia membelinya.

Orang seperti temanku saat ini sangat banyak. Orang membeli barang bukan karena dia butuh barang itu tapi ada alasan lain seperti discount, bosan dengan barang yang lama dan sebagainya. Suatu hari ada orang yang bertanya padaku apakah aku mau jaket sebab dia melihat jaketku sudah agak kumal termakan usia. Aku jawab bahwa jaket itu masih bisa dipakai mengapa harus beli lagi? Akhirnya dia pun membelikan. Suatu hari dia bertanya mengapa aku tidak memakai jaket yang dibelikan? Aku jawab jaket yang kupakai masih bisa kupakai. Orang itu hanya mampu menggelengkan kepala sambil menggerutu dan menganggapku aneh.

Sejak kecil aku selalu dibelikan barang oleh orang tua pada saat apa yang kumiliki sudah tidak dapat dipakai lagi. Sepatu yang sudah sobek sejauh masih bisa dijahit maka akan dijahit. Kalau sudah tidak dapat dijahit lagi maka baru dibelikan. Hal ini terbawa sampai sekarang bahwa aku akan membeli bila apa yang kumiliki sudah tidak layak lagi dipakai. Tapi jaman ini sangat kental budaya konsumerisme. Melalui iklan yang sangat gencar orang diajak untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan. Orang dibius oleh kaum industrialis seolah membutuhkan barang, maka banyak iklan bukan menawarkan sebuah produk tapi menawarkan sebuah kebutuhan. Iklan membuat orang merasa membutuhkan sebuah barang sehingga membelinya.

Kejangkitan orang membeli barang tanpa membutuhkan bukan hanya menjadi gejala orang kaya, tapi orang miskin pun tidak terluput dari budaya konsumerisme ini. Ada seorang mengeluh padaku soal gajinya yang tidak cukup. Setelah aku ajak berhitung ternyata pengeluaran terbesar untuk pulsa HP baik dirinya, istrinya maupun anaknya. Biaya pulsa per bulan menghabiskan separo dari penghasilannya. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat angka-angka itu. Padahal bila dia tidak menggunakan HP masih bisa berkomunikasi sebab di rumahnya masih ada telepon. Mereka membeli HP karena seolah membutuhkan HP untuk berkomunikasi.

Mahatma Gandhi mengajar bahwa bila kita menyimpan banyak barang yang tidak kita butuhkan, sedangkan banyak orang lain membutuhkan barang itu, maka kita sama dengan pencuri. Ajaran Yesus jauh lebih keras lagi, orang tidak perlu mempunyai banyak barang, maka Dia ketika mengutus para murid hanya menginjinkan membawa apa yang sangat dibutuhkan. Bahkan kita harus menjual semua harta dan memberikan pada orang miskin. Pada jaman ini orang mampu membeli tanpa tahu buat apa barang itu selanjutnya. Mereka berusaha menyesuaikan diri dengan budaya tinggi yang semu yang ditawarkan secara gencar oleh iklan.

Untuk itu kita membutuhkan disiplin diri dan kemampuan untuk berpikir kritis tentang aneka tawaran. Kita harus mampu memilah antara kebutuhan dan keinginan. Terlebih adalah semangat kesederhanaan dan kerendahanhati. Tidak jarang iklan menyentuh harga diri. Seolah dengan memiliki barang itu maka dia akan menjadi manusia yang hebat dan terhormat, sehingga membuat orang bernafsu untuk memiliki barang yang tidak dibutuhkan. Kerendahhatian membuat kita mampu merasa cukup, sehingga kita tidak tergoda untuk membeli apa yang sebetulnya tidak kita butuhkan. Inilah tantangan pada jaman ini dimana iklan dan tawaran bagaikan singa yang mengaum-ngaum mengelilingi kita dan siap memangsa kita.

0 komentar:

Posting Komentar